Paseban; Seberkas Cahaya Membawa Penerangan Abadi

Awal January 2013 ini seharusnya saya berada di USA untuk mengikuti salah satu program beasiswa di sana. Namun sayangnya rencana Allah buat saya bukan itu untuk mengawali tahun 2013 ini. Apa boleh buat; kecewa di awal sudah pasti, apalagi sedih. Yah, manusiawi lah. Apalagi saat itu saya sudah mendapatkan email balasan yang menuju jalan lolos. Kemungkinan untuk go tinggal 10% lagi. Tidak lama selang beberapa hari setelah pengumuman final yang tidak menyantumkan nama saya, dapatlah saya panggilan untuk menjalankan intern training di Global Peace Festival Indonesia Foundation (GPFIF) di Jakarta. Hampir saja saya melupakan tawaran training ini yang telah lama ditawarkan kepada saya, karena saya waktu itu sedang disibukkan dengan berbagi kegiatan yang salah satunya adalah Global Peace Volunteer 1.14 di Batu, Jawa Timur.

blog 7

Selama intern di GPF saya membantu program director of youth di GPYC. Program pertama yang saya lakukan bersama team adalah Alllights Village Project [AVP] di Kampung Paseban Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor. Sebuah desa tanpa listrik yang sebelumnya saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan mengunjungi tempat seperti ini. Bukanya karena alasan apa apa, tapi saya terbiasa melihatnya hanya dalam film film yang selama ini saya tonton dan acara reality show yang selama ini sering muncul di TV.  Saya yang lahir dan tinggal di sebuah tempat yang selalu ada cahaya, terang, dan lancar dalam menjalankan berbagai hal, tapi tidak untuk saudara-saudara saya yang tinggal di kampung Paseban ini. Seperti yang saya tulis pada judul postingan kali ini, Paseban memang membawa sejuta makna dalam melengkapi mozaik mozaik kehidupan saya. Gambar di atas adalah gambar rumah sederhana yang hanya ada dua kamar, satu ruang tengah dan satu dapur. Tidak ada kamar mandi karena kamar mandi ada di luar untuk umum. Dihuni oleh 7 orang dan ditambahi kami ada 7 orang lagi. Bisa dibayangkan bagaimana situasinya. Sungguh berbeda dengan pusat ibukota Indonesia yang berbagai gedung tinggi seakan-akan berbalapan. Seperti halnya gedung berikut yang saya ambil dari kamar saya di Jakarta, ketika saya singgah untuk intern di sini.

blog 1

blog 4

Awalnya, AVP ini saya kira hanya sebuah program yang memberikan lentern bersumberkan tenaga surya kepada masyarakat di kampung tanpa listrik dan sedikit speech dari beberapa orang penting. Ternyata tidak. Saya salah besar. Alhamdulillah saya sangat bersyukur sekali ketika mendapatkan tugas untuk menjadi koordinator kegiatan saat di Desa itu karena mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Desa yang gelap itu sebelum acara. Itulah mengapa saya pernah berkata kepada salah satu partner saya “Ini adalah jawaban mengapa gua harus digagalkan untuk ke US oleh Allah dan dikirim di desa yang banyak memberikan banyak nilai yang keren”. 28 January pagi pagi sekali saya dan tim berangkat ke desa itu untuk mempersiapkan segala hal di sana. Pemandangan awan mendung dan alam sekitarya jangan ditanya seberapa indahnya. Saya takjub dan mungkin orang lokal menganggap saya katrok, norak, atau entahlah apa bahasa mereka karena saya sangat senang sekali dan bahagianya ketika kabut kabut tebal turun di lokasi saya tinggal. Yah harap maklum, di tepat saya tinggal panasnya luarbiasa. Ketika pagi dan sore hari menjadi sebuah pemandangan alam yang sangat menyegarkan mata dan seluruh bagian tubuh ini, namun ketika malam datang, hilanglah semua hiburan karena gelapnya di sana sangatlah mencekam. Belum lagi ulah-ulah anjing liar dan babi liar yang berkeliaran. Keributan di luar rumah cukup membuat tidak bisa tidur karena harus waspada dengan hewan liar itu. Sejenak saat itu saya berfikir dan mengingat cerita kakek di rumah ketika beliau berada di jaman peperangan dulu, yang memperebutkan Indonesia ini di kota Pahlawan. Semua aktivitas perlahan berhenti sejalan dengan tergelncirnya mentari di ujung barat. Mereka bertahan untuk membuka mata hanya untuk menunggu waktu sholat isyak tiba, dan selebihnya mereka langsung tidur. Mau apa lagi memang? sudah malam, gelap, dan tidak ada hiburan yang dapat di nikmati. Mendingan meeka istirahat karena esok sudah banyak aktivitas berat yang harus mereka jalani. Menjadi buruh harian, atau pergi berdagang ke pasar yang  berkilo-kilo meter jauhnya; aktivitas yang rutin dijalani secara turun temurun. Sementara sang wanita mengurus keperluan rumah lantas bertandang menjadi buruh harian juga; membantu suami untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak murah.

blog 3

Kampung paseban ini letakya begitu jauh di puncak dan sangat terpencil, menurut saya. Bahkan akses untuk menuju ke sana pun sangatlah sulit. tidak heran apabila orang Bogor sendiri tidak mengetahui keberadaan mereka. Hal yang saya sayangkan adalah ketika salah satu pemerintahan setempat berkata “seharusnya kami malu karena bukan orang Bogor sendiri yang mengetahui ini terlebih dahulu, malahan orang dari Jepang”

Seketika itu saya berfikir “Saya juga bukan orang sini, dan mostly staff dan panitia juga bukan orang sini. Semoga kata-kata mereka bisa dijadikan sebuah tindak nyata. Saya hanya berusaha bersikap positive thinking dan berharap besar terhadap peran dalam pemerintahan”. Handphone mereka saja lebih dari dua biji, tetapi rakyatnya? boro2 beli HP sebiji, penghasilan sehari saja Rp. 3000,- bisa untuk apa? Naik angkot saja kurang kalau dari rumah saya menuju kampus. paling tidak dibutuhkan Rp.5000 minimal; itu pun belum termasuk ongkos pulang. Namun di sisi lain, hal hal yang membuat saya tersentuh dan termotivasi lagi dengan kegigihan mereka, anak-anaknya semangat belajarnya sangatlah tinggi. Yeps, sangat persis sekali dengan apa yang saya tonton di TV. Mereka sekolah dengan menempuh perjalanan kurang lebih 3 KM setiap harinya; bukan dengan sepeda, mobil, motor, atau kendaraan lainnya. Kendaraan mereka adalah kakinya sendiri. Bisa dibayangkan betapa lelahnya setiap hari harus menjalani itu untuk sekolah. Kaki mungil mereka harus bekerja lebih keras daripada bocah seusianya di luaran sana. Tidak heran jika mereka sekolah hanya sekitaran 2 jam saja per hari. Yakni antara jam 10.00 WIB sapa pukul 12.00 WIB. Ya, sekolahan itu siangnya digunakan untuk kakak kakaknya yang SMP. Di jenjang pendidikan yang satu ini muridnya sangatlah jarang sekali, karena kebanyakan mereka putus sekolah dengan berbagai alasan klasik. Aa diantara mereka yang putus sejak SD, ada yang lulus SD langsung menikah, ada yang di tengah-tengah jenjang SMP mereka harus berhenti.

Sebuah pemandangan lain yang membuat saya cukup heran, ketika pertama kali saya survei di lokasi ini bersama kak Nadya dan Shintya. Sangat banyak wanita di usia sangat muda sudah tidak perawan lagi. Bukan kerna prostitusi atau kecelakaan karena memang mereka kebanyakan menikah dini. Wah, saya tidak bis membayangkan dibekali apakah anak anaknya saat tumbuh nanti. Namun setelah saya tinggal di sana, bekal ini itu yang ada dalam pikiran saya tiada arti.  sedihnya di tempat ini mereka hanya memikirkan yang pentng hari ini bisa makan sudah cukup. Besok yah urusan besok. Sehingga mereka tidak mengenl yang namanya cita-cita atau keingainan yang jauh untuk merubah kehidupanya menjadi lebih baik. Bahkan hal simpel yang berhubungan dengan penghematan sumber energy saja mereka acuh dan tidak mau tahu. Kembali seperti yang saya katakan tadi di atas, “yang penting hari ini saya hidup dan melakukan apa yang saya mau selesai kang”. Saya tercengang, tapi hanya saya simpan dari dalam hati.

blog 2

Masih belum terlambat dan tiada kata terlambat untuk melaukan sebuah perubahan. Saya yang berasal dari daerah timur pulau ini dan hanya sangat singkat berada di sana, tidak mau begitu saja menyianyiakan kesempatan yang ada. Kami [Saya, Okky, Bustomi, Tiwi, Furqon, Kak Anggie, Ika] berusaha mengakarapkan diri dan memberikan mereka pandangan bahwa hidup itu nggak cuman untuk hari ini tapi masih ada perubahan perubahan lain yang harus dilaksanakan. Kami berkumpul dengan anak-anak kampung Paseban dan beberapa ibu muda untuk membicarakan impian, harapan, dan hidup itu perlu peningkatan. Bukanya kita orang baru yang barusan atang dan sok menggurui megatur orang agar seuai jalan pikiran kita, tapi ini merupakan ketulusan bahwa kita semua adalah keluarga yang sudah sepatutnya saling mengingatkan. This planet is for peace, we life for peace, then we can rest in peace.

tim in villageIMG_3657IMG_3689IMG_3557

IMG_3537

Saat tamu-tamu dari Jepang datang, berdecak kagum kepada masyarakat kampung paseban ini karena saya semakin mengetahui apa yang mereka rasakan. Saya kagum karena melihat kegigihanya dalam hidup di empat seperti ini. Tiada henti saya bersyukur kepada Allah SWT atas segala kenikmatan yang selama ini saya rasakan. Kampung paseban ini emang sungguh luarbiasa. Mengajarkan banyak hal yang mungkin tidak didapatkan di tempat lain, mengajarkan banyak hal yang mungkin tidak ada di negara negara yang saya impikan untuk saya kunjungi dan belajar di sana. Dapat duduk satu meja dengan orang orang Jepang dan penduduk lokal untuk melukis bersama rasanya begitu indah dan sungguh terasa harmonisasinya. Alllights Village Project; when a light comes and becomes a life; A light brings better future.

10 thoughts on “Paseban; Seberkas Cahaya Membawa Penerangan Abadi

  1. Assalam..
    Sugoi sugoi sugoiiii 😀
    wahhh, bener2 ngiler pingin jd volunteer, mbantuin temen2 disana TT huhuhu
    berbagi itu emang nggak ada matinyee, yeeee 😀 kpn2 ajakin kalo ada keg serupa, masbrooo 😀 hwehehe
    oh ye, info nih, kalau panjenengan interest mengajar anak jalanan, yuk gabung di Save Street Child Surabaya 😉 mgkn sdh prnh dgr, ya? Seruuu poool hehe *curhat ups
    waiting for ur next story!!
    Keep it up, big broo 😉 doakan saya bisa nyusuuuul jd orang kereen!!
    Wass.

  2. SUPER GREAT BRO!!!! though gua sempat terenyuh baca paragraf pertamanya. Apa yang kau lakukan disana sama besar dan mulianya dengan jika dirimu dapet beasiswa ke USA. Keep it up!!!

  3. keren bro… yang lu lakuin di kampung Paseban ini jauh lebih berharga ketimbang beasiswa ke US, trust me… kesempatan belajar di kelas2 itu banyak, tapi kesempatan belajar langsung di lapangan dan bersentuhan dengan masyarakat langsung itu yang gak semua orang bisa dapat atau bahkan mau melakukannya.

    happy heartwashing bro… 🙂

    1. makasih bundo… alhamdulillah kalo bisa membuat inspirasi baru. I did nothing bundo, just try to do my best as Indonesian youth. anyway kangen nih sm bundo and the gank. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s